Archive for the ‘Motivation’ Category

Berbagi rezeki

Posted: December 20, 2010 in Motivation
Tags: , ,

Dari dulu sampai sekarang dan nanti, orang miskin akan selalu ada. Baik di kota besar sampai di pelosok desa. Di pinggir jalan, jembatan penyeberangan, depan rumah ibadah, sampai mengetuk pintu rumah kita. Bagaimana sikap kita terhadap para peminta-minta dan gelandangan yang mengetuk belas kasihan itu?

Seorang bijak berkata:

”Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.”

(more…)

Pernah nggak sih, kamu merasa begitu malas sekali untuk berbuat dan pengennya menunda-nunda pekerjaan saja. Dimulai dari menunda bangun tidur, sampai menunda belajar padahal ujian sudah dekat, atau menunda membereskan pekerjaan yang amat menumpuk. Padahal, seandainya saja kita sedikit lebih rajin dan menghindarkan kemalasan, kesuksesan akan beserta kita. Kesuksesan yang selalu jauh dari orang malas.

Seorang bijak berkata:

”… Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas d tempat tidurnya. Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya.”

(more…)

Sejak Gunung Merapi meletus (26/10), rasanya penderitaan semakin bertambah. Padahal gak lama sebelum Merapi, sudah cukup pilu hati kita mendengar derita banjir Wasior dan di hari yang sama pula dengan bencana Merapi, Mentawai pun diterjang tsunami.

Habis jatuh tertimpa tangga pula. Bencana datang bertubi-tubi. Beban yang harus dipikul berat banget.

 Sanggup gak yah? Pertanyaan itu kerap muncul kalau penderitaan terus datang tanpa henti. Dorongan menyerah biasanya lebih besar daripada bangkit. Bagi yang terpapar bencana, menjadi patah arang, menjadi pilihan yang lebih mudah.

Ada janjiNYA untuk kita semua, kalau kita berbalik dari perbuatan dosa, maka Tuhan pun berbalik dari murkaNYA menjadi belas kasih yang sangat luar biasa.

Tapi …..sadarkah kita, yang terpapar bencana ataupun tidak,  setiap ada bencana selalu ada belas kasih yang muncul dari berbagai penjuru.

Ingat ‘gak waktu bencana tsunami akbar di Aceh? Sejumlah negara tergerak hatinya saling berbagi belas kasih. Kini saat bencana Wasior, Merapi dan Mentawai pun, belas kasih datang. Kita yang tidak terpapar bencana, sadarkah bahwa kita gak usah nunggu bencana datang untuk bisa berbagi belas kasih. Jadikanlah sifat belas kasih menjadi salah satu sifat yang bisa kita miliki.

Aku gak gimana masa depanku – bahkan apa yang bakal terjadi sejam mendatang pun aku gak tau!

KARAKTER YANG BAIK ADALAH JAMINAN TERBAIK DALAM HIDUP.

Akhirnya, aku pilih cara gini aja …..melindungi diriku dan keluargaku semampuku trus aku coba ngasih hari esokku ama Pemilik Bumi Langit alias Tuhan. Habis mau gimana lagi coba. Banyak banget hal-hal yang ada di luar kemampuan kendali diri sendiri.  Lagian udah aku coba untuk mengendalikan ini itu sekuat tenaga, berhasil sih berhasil …tapi dibalik semuanya itu, asli capek degh!! Koq kayak diperbudak sama banyak hal.

SO, aku milih melepaskan beban untuk kontrol ini dan itu sama yang ciptakan aku aja deh.

Biar berhasil kalo capek melulu dan jadi diperbudak kayaknya aku gak enjoy, no way akh! So aku milih berdoa, rajin membaca firmanNya dan mencoba mengikuti perintahNya yang ada dalam firmanNya itu.

 Sambil belajar ….tanpa aku sadari sebetulnya aku jadi belajar mengenalNya, siapa Dia, dan walhasil ….. Karunia dan BerkahNya justru bikin aku bisa jadi punya cinta kasih, tenang, sabar, sedikit lembut dan sedikit berbijak. Yah sedikit lah …sedikit-sedikit aja dulu ……ntar lama-lama juga kan berkembang!

So memilih membangun karakter itu kuncinya mengenal Tuhan, berserah sepenuhnya dan ngikutin mauNya!

Sering kita terus memilih untuk menunda-nunda pekerjaan. Menunda bangun tidur, menunda rencana aktivitas, menunda bekerja, atau menunda bertemu teman yang bisa jadi akan membawa produktivitas buat kita. Padahal, seandainya saja kita sedikit lebih rajin dan menghindarkan kemalasan, niscaya rezeki dan penghasilan lebih akan banyak menghampiri kita.

(more…)

Bersabarlah supaya mendapat kasih sayang yang melimpah

Gara-gara sifat  gak sabaran nyaris semua jalan hidupku hampir babak belur. Mungkin kalo saja waktu itu aku lebih dengerin ajakan temen, nasibku dijamin kayak temenku, hamil duluan, putus kuliah, gak dinikahi …de el el lah pokoknya.

Tapi Allah emang baik banget, nyelamatin aku! Bukan cuman diselamatin soal lolos bisa jaga perawan aja tapi juga segalanya. Aku jadi sadar pentingnya punya tujuan hidup, gak cuman mau ini, mau itu tanpa mau nunggu dan bersabar. Aku jadi belajar bisa menghargai sesuatu karena mau menunggu dan bersabar, terus mulai bisa menyukai dan menikmati saat-saat menanti.

Kini…. aku pun bisa mengerti kalau segala sesuatu yang datang dari Tuhan itu jauh lebih indah dan kekal. Waktu Tuhan gak sama dengan waktu aku. Tapi segala sesuatu itu justru menjadi indah kalo datangnya tepat pada waktuNya. Yah waktunya Tuhan.

Menghargai orang lemah…

Posted: October 22, 2010 in Motivation

Di hadapan Tuhan, setiap orang sama. Kita tak boleh merendahkan orang menurut derajat kaya miskin, sukses tidak, atau berdasarkan kesempurnaan fisik atau cacat tubuhnya. Baik dia gagah, berlimpah materi, atau secara dunia terlihat lemah, semua berharga di mata Tuhan.

Seorang bijak berkata,

”… Siapa menindas orang yang lemah, menghina penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada oang miskin, memuliakan Dia.”

Siapa yang berkuasa akan menindas yang lebih lemah sepertinya sudah menjadi hukum alam. Yang kaya menekan sesamanya yang lebih lemah dalam perdagangan, para majikan mempekerjakan pembantunya melebihi batasan normal tapi dengan upah yang ditekan serendah mungkin. Perilaku seperti ini terlihat wajar di dunia. Perhatikan, kita bisa memberi tips besar ketika sedang senang-senang di restaurant, cafe, tapi kesal ketika memberi sedikit sedekah atau sumbangan kepada pengemis, anak jalanan atau pengamen. Kepada tukang parkir kita bisa ribut karena perbedaan beberapa ratus rupiah, kepada tukang sayur kita tega menawar hingga puluhan rupiah sekalipun. Padahal bagi kita yang mampu jumlah itu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi bagi mereka itu sudah sangat besar artinya.

Mari kita belajar menghargai sesama, apapun pekerjaannya, apapun kelemahannya. Karena semua orang itu berharga di mata Sang Pencipta…