Posts Tagged ‘kasih sayang’

Sejak Gunung Merapi meletus (26/10), rasanya penderitaan semakin bertambah. Padahal gak lama sebelum Merapi, sudah cukup pilu hati kita mendengar derita banjir Wasior dan di hari yang sama pula dengan bencana Merapi, Mentawai pun diterjang tsunami.

Habis jatuh tertimpa tangga pula. Bencana datang bertubi-tubi. Beban yang harus dipikul berat banget.

 Sanggup gak yah? Pertanyaan itu kerap muncul kalau penderitaan terus datang tanpa henti. Dorongan menyerah biasanya lebih besar daripada bangkit. Bagi yang terpapar bencana, menjadi patah arang, menjadi pilihan yang lebih mudah.

Ada janjiNYA untuk kita semua, kalau kita berbalik dari perbuatan dosa, maka Tuhan pun berbalik dari murkaNYA menjadi belas kasih yang sangat luar biasa.

Tapi …..sadarkah kita, yang terpapar bencana ataupun tidak,  setiap ada bencana selalu ada belas kasih yang muncul dari berbagai penjuru.

Ingat ‘gak waktu bencana tsunami akbar di Aceh? Sejumlah negara tergerak hatinya saling berbagi belas kasih. Kini saat bencana Wasior, Merapi dan Mentawai pun, belas kasih datang. Kita yang tidak terpapar bencana, sadarkah bahwa kita gak usah nunggu bencana datang untuk bisa berbagi belas kasih. Jadikanlah sifat belas kasih menjadi salah satu sifat yang bisa kita miliki.

Advertisements

Kalo emang ada rasa cinta plus kasih sayang, kudunya suka cita dan lebih suka dilandasi hal-hal yang sifatnya benar.

Godaan pacaran itu pasti ada, apalagi godaan yang sudah ke level “suka sama suka” atau “sama-sama suka”. Sudah banyak banget  alasan ini jadi bagian warna dalam hubungan. Aku sendiri pun sempat hampir terjebak!

Aku bisa lolos dari godaan itu karena mudah aja aku berpikir saat itu, aku gak punya jaminan apapun dari dia. Bisa saja dia menjanjikan nikah, tapi aku gak mau ambil resiko.

Lagian aku lebih suka memilih menjadikan diriku mahal dan terhormat. Aku gak mau menjadikan diriku murah tanpa harga untuk bisa dinikmati. Aku justru sengaja menutup tubuhku rapat demi sebuah harga yang tinggi yaitu bisa disentuh setelah menikah resmi dan jelas ada komitmen yang bisa saya tuntut balik untuk keamanan diriku.

Kalo memang bener-bener cinta, seharusnya justru menjauhi hal-hal yang terlarang dan menjunjung sikap yang benar dan terhormat. menghormati hak aku yang ingin menyerahkan tubuh dengan akta nikah dan komitmen tanggung jawab.

Kasih itu tidak cemburu

Gak mudah sih untuk tidak cemburu sama pasangan. Rasa cemburu itu pasti ada sejak dari hubungan berteman, berpacaran, bertunangan sampai menikah. Cemburu kepada keluarga dan teman baik pun bisa terjadi, karena itulah sifatnya manusia yang terbatas.

Aku bisa bersabar untuk tidak cemburu tapi sabarku juga ada batasnya. Trus, gimana caranya tuh koq bisa yah ada orang yang pasangannya amit-amit tapi tetap bersabar dan tidak cemburu trus tidak lama kemudian justru pasangannya jadi sadar, minta maaf bahkan bertobat dan menjadi super setia? Nah loh ……

Usut punya usut, ternyata mereka yang bisa memenangkan sebuah hubungan yang langgeng, aman, adem dan ayem itu modalnya cinta kasih dari Tuhan. Mereka yang menang sabar itu karena lebih meminta Tuhan yang mengontrol hidupnya dan menyerahkan laku hidupya sepenuhnya ke dalam kuasaNYA karena kita gak bisa mengontrol dan mengawasi pasangan 7 hari 24 jam penuh, gitu katanya …..

Kasih itu murah hati.

Sepasang suami istri yang sudah diikat resmi oleh tali kasih dan berpayungkan hukum akta pernikahan menjalani bahtera rumah tangga dengan berbagai tantangan dan godaan. Ada suka dan ada duka. Tetapi dasar cinta dan kasih sayang yang mereka semaikan bersama, seringkali terabaikan pada saat kegelapan dunia menyeruak. Sekuat-kuatnya dasar kasih sayang yang kita punya, tetap akan goyah kalau tanpa disertai kasihNYA.

Suami tersinggung dan menolak berbicara  atau sebaliknya. Kadang-kadang persoalannya sepele, hanya karena sang suami atau istri merasa keberatan untuk memberikan sedikit rejekinya untuk keperluan saudaranya atau orang lain.

Sadarkah kalau apapun yang kita miliki di dunia ini, semuanya adalah berkah dan amanah dariNYA karena sifat kasihNYA yang Maha Murah Hati?

Cinta kasih adalah sebuah permainan yang dimainkan dua orang dan kedua sama-sama menang.

Sering denger guyonan yang satu ini ‘kan? “Laki perempuan sama saja yang penting kasih sayang.”

Meski guyonan ini aslinya eksis dengan konotasi agak miring tapi ini bisa kita terapkan juga kalau suatu saat nanti kita berumah tangga dan mengharapkan momongan tentunya.

Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya memang sama-sama membutuhkan cinta kasih alias kasih sayang, bukan? Mereka lahir dengan dorongan alamiah untuk bisa merasakan kasih sayang – bagaimana supaya bisa memberikan dan menerima kasih sayang. Laki-laki ataupun perempuan, sama-sama mau merasakan kasih sayang yang seutuhnya, yang tak ternoda, yang tulus hati, yang tidak menyakitkan tetapi justru yang bisa saling menyenangkan keduanya.

Kalau ada diantara pasangan yang menyatu atas dasar tali cinta kasih tetapi sebetulnya salah satu dari mereka menderita, tertekan, sakit hati; bisakah ini betul-betul disebut LOVE? Pasti bukan motivasi TRUE LOVE. Waspada ya …LOVE itu harus damai tanpa menimbulkan konflik.

Cinta atau kasih sayang adalah maaf yang tak pernah berujung. Kebiasaan menunjukkan sesuatu yang tampak lembut.

Kelembutan sikap seseorang secara alami  selalu jauh lebih memikat hati seseorang untuk menerima ungkapan rasa cinta dan kasih sayang daripada harta atau tampang. Kadang membingungkan kalo lihat seorang cowok tampan atau cewek cantik sementara pasangannya biasa-biasa saja. He he he …… itulah LOVE, begitu indah dan powerful; namun juga butuh pengorbanan.

Diantara pengorbanan LOVE itu adalah MAAF. Sering banget dulu dapat nasehat,”Kalau memang dia adalah orang pilihan yang tepat buat masa depan kamu, kamu harus siap memaafkan masa lalunya dan siap membangun masa depan bersama-sama. Hubungan yang kokoh dan harmonis itu harus dibangun, bukan terjadi begitu saja. Kalau sama-sama siap berkorban demi satu kepentingan bersama, pasti bisa. Maaf adalah komitmen terbesar yang tak pernah putus untuk membangun LOVE.”

Masih terngiang juga ucapan seperti ini,”Kalau masih lebih penting mengingat siapa dia di masa lalu, merasa terbebani dengan masa lalunya dan tidak siap menerima dia seutuhnya , sebaiknya jangan memilih dia sebagai pasangan masa depan kamu.”

LOVE itu harus sabar menerima dan memaafkan diantaranya.***