Saya pernah menjalani hidup yang sia-sia tanpa disadari. Saya pikir, saya ini patuh, taat dan tertib menjalani hidup. Tidak melakukan tindak kriminal, hormat dan sayang kepada orangtua, menjalankan syariat beragama dan masih banyak lagi.

Sampai suatu hari saya menyadari kalau sejauh itu saya sebetulnya masih hidup sia-sia. Padahal saya tidak lepas dari ritual beribadah bahkan selalu membaca kitab suciNYA. Tapi koq bisa sia-sia? Ternyata membaca dan menjalankan ritual beribadah saja tidak cukup.

Mendengar, memegang teguh dan melakukan firman Tuhan adalah sikap takut akan Tuhan.

Akhirnya saya sadar kalau saya HARUS membaca kitab suciNYA sampai betul-betul mengerti pemahamannya, setelah itu baru saya BISA mendengar perintahNYA, kemudian MENGERTI aturan mainNYA.

Nah, kalau sudah begitu baru saya bisa menyadari bagaimana harus memegang teguh firmanNYA dan menjalankan firman tersebut dengan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari bahkan sampai orang lain pun bisa merasakan ada pancaran Ilahi melalui tindak tanduk kita dalam banyak hal.

Advertisements

Sudah pernah dengar kata-kata ‘Takut akan Tuhan’ sebelumnya? Koq Tuhan ditakuti? Memangnya Tuhan itu menakutkan?

Well, takut di sini bukan karena Tuhan itu menakutkan, kejam dan bengis, BUKAN ITU!! Tuhan itu Maha Pengampun, Pengasih, Penyayang, Pemaaf …masih banyak lagi.

Takut di sini maksudnya hormat, segan, taat, patuh ….artinya kita mau menjalankan perintahNYA, menjauhi laranganNYA, menerapkan ajaranNYA kepada sesama, dll.

Selama kita masih menganggap apa yang kita lakukan itu benar dan baik menurut diri kita sendiri, tanpa pernah membuka kitab suciNYA untuk diakurkan, maka anggapan itu perlu dipertanyakan ulang. Ayo cobalah sesekali dicocokan, tidak bakal merugi koq.  Sesuai tidak dengan kehendakNYA?

Sering saya mengalami hal seperti ini, saya pikir tindakan saya benar. Ternyata setelah saya buka dan baca kitab suciNYA, terus introspeksi diri, hasilnya tidak sesuai!Akhirnya saya sadar, kalau saya terus-terusan begini merasa benar tanpa mengikuti aturan main yang ada di kitab suciNYA, saya berada di zona yang berbahaya. Saya sudah membuang banyak waktu percuma dan saya tidak bisa mengembalikan waktu yang terbuang atau mundur mengulanginya.

 Jangan buang waktu percuma untuk mengejar ini dan itu yang belum tentu dan pasti berkenan bagiNYA. Dapatkan berkahNYA dengan mengikuti aturan mainNYA.

Masih ingat kisah nyata yang terjadi awal Februari 2009, dimana seorang mantan Mentri Keuangan Jepang Shoichi Nakagawa yang lengser dari jabatannya akibat mabuk ? http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/7893924.stm

Kita bisa belajar memetik hikmah dari peristiwa di sekitar kita, bukan menghakimi.  Jangan biarkan diri kita bisa sadar setelah harus mengalami sendiri. Kita pun bisa sadar dan belajar dari pengalaman atau peristiwa di sekitar kita.

Seorang mentri sudah pasti berilmu, punya wawasan, punya pengetahuan yang tinggi, tetapi pertanyaannya, apakah mereka itu punya hikmah dan didikan yang benar dalam hidupnya?

Kesalahannya sepele yaitu mabuk sebelum konferensi pers. Beliau sudah tahu ada jadwal Konferensi pers. Itulah kekuatan sebuah godaan. Sekuat apapun upaya kita mencoba menahan atau menolak diri dari godaan tetap akan tergoda juga suatu saat.

Supaya berilmu, punya wawasan luas, berpengetahuan tinggi, punya hikmah juga didikan yang benar ….sebaiknya dimulai dengan takut akan Tuhan.

Satu-satunya cara supaya kokoh dan tidak mudah runtuh oleh godaan adalah meminta Tuhan untuk selalu menyertai setiap langkah kita.

Takut akan Tuhan artinya mematuhi dan menjalankan perintah dan laranganNYA. Ilmu, wawasan, dan pengetahuan, akan dijaga baik olehNYA bahkan dilengkapi dengan hikmah dan didikanNYA.

Menunggu itu pekerjaan yang paling menyebalkan. Pernah dengar ‘kan ungkapan seperti itu? Hhhmmm …..bagaimana kalau kita ubah menjadi ‘Happy Happy kalau menunggu’. Bisa nggak ya kita mempraktekannya?

Mengapa Gila Hidup mengajak kamu mengubah cara pandang yang asalnya membosankan/menyebalkan menjadi menyenangkan atau happy?

Petiklah hikmah dari kata-kata ini:

Mending happy-happy kalau lagi menanti sesuatu, sabar waktu kesusahaan, terus teguhkan keyakinan pas lagi berdoa.

Well, coba saja renungkan, kalau kita jengkel, sebal, menggerutu, bahkan marah-marah saat menunggu – bisa bikin kepala jadi mumet, pikiran jadi buntu, pembawaan pun jadi kisruh, terus akan kehilangan kesempatan yang menyenangkan. Bayangkan seandainya ada seseorang mau membantu di saat kita menunggu tapi karena tampang kita ruwet dan asem, bisa jadi orang yang akan membantu pun menjauh daripada tertimpa sesuatu yang tidak diharapkan.

Kalau kepala sudah mumet dan pikiran buntu karena jengkel menunggu; akal sehat tidak berfungsi karena kita mengurungnya pada kebuntuan oleh pilihan diri sendiri. Kendalikanlah akal sehat kita!

Silahkan pilih mau jengkel atau happy?? Gila Hidup sih milih happy, soalnya jengkel tidak pernah menyelesaikan situasi!

Sekedar opsi, mulai membiasakan membawa dan membaca buku yang bermanfaat. Membaca bisa dijadikan alternatif bermanfaat saat menunggu dan sekaligus menambah ilmu.

Mengikuti perkembangan secara detil terkait soal bencana banjir yang menerjang Queensland sangat menarik. Banyak kisah pilu tentunya, tetapi kisah yang menggugah jiwa justru menjadi obor semangat hidup. Bisa membantu cara pandang bagi yang merasa hidup dalam kesempitan, kegelapan dan tak ada harapan.

Tapi inti yang paling menarik yang ingin dibahas adalah soal bantuan dana donasi yang sudah melebihi 1oo juta dollar dari link di bawah ini.

http://www.couriermail.com.au/news/queensland/premiers-flood-relief-appeal-reaches-the-100-million-mark/story-e6freoof-1225990899986

Ada pihak yang ragu, bahkan menanyakan bagaimana mengelola dana tersebut dan kemana dana itu akan dialirkan. Ini adalah pelajaran yang sangat menarik bagi kita semua.  Bagaimana sikap hati kita saat memberi?

Ada nasihat bijak bilang “Berilah dengan sukacita dan ikhlas.”

Begitulah nasihatnya  – tidak menyarankan kita mencari tahu bagaimana status itu dana atau kemana itu dana mau dialirkan. Kalau kita ragu dan tidak ada kepercayaan, sebaiknya jangan memberi. Jangan sampai sudah susah-susah memberi, tetap saja tidak mendapatkan hikmah dan berkah karena masih ada rasa curiga. Kalau ikhlas dan sukacita, tidak perlu pakai embel-embel. Berilah dengan sukacita dan ikhlas. TITIK.

Serahkan pemberian kita kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui, Yang Mengendalikan dunia beserta isinya. Ubah motivasi diri kita dalam cara memberi. Memberi karena sadar kalau Tuhan sudah memberikan kemampuan yang berlebih. Memberi karena sadar kalau kita harus mengalirkan bantuan yang datang dariNYA. **

Karakter setiap orang tentu saja berbeda. Ada yang pendiam dan baru terdengar suaranya kalau diminta bicara. Ada juga yang sebaliknya, tidak diminta berkomentar pun justru sudah duluan meluncurkan kata-katanya, bahkan tak segan-segan memotong pembicaraan orang lain atau bahkan menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan untuk dirinya.

Nah, waspadai diri kita. Termasuk ke jenis yang manakah kita ini? Ayo kita belajar bersama-sama  membangun karakter diri kita menjadi lebih baik.

 Jangan biarkan kita menjadi orang yang cepat melontarkan kata-kata tanpa berpikir terlebih dahulu, apalagi sering memotong omongan orang lain, atau tidak memberi  kesempatan kepada orang lain untuk mengeluarkan pendapatnya. Sikap seperti  ini bisa membahayakan!!

Ingat-ingat ya pepatah yang satu ini:

Diantara kebiasaan orang berkepala batu (bebal) adalah selalu cepat melontarkan kata-kata tanpa berpikir terlebih dahulu.

Waspadai kalau ini adalah salah satu tanda sikap seseorang yang bodoh. Kebodohan ini akan menjadi bumerang karena akan hilang simpati. Cermatlah dalam melontarkan kata-kata. Apabila tidak tahu, diam. Apabila tidak perlu, juga sebaiknya diam saja.**

Siapa yang tak kenal tokoh cerita Abunawas?  Pandai, bijak, luwes dan banyak akalnya. Keluwesan perangainya menyampaikan banyak akal bisa menyelamatkan dirinya dari jebakan lawan.

Apakah ada orang yang paling bijak di dunia ini? Jawabannya tidak ada. Sikap bijak itu datang dan tumbuh kalau kita mau mendengarkan nasihat-nasihat bijak yang Ilahi. Sekalipun nasihat itu datang dari seseorang yang kita tidak tahu – apakah dia bijak atau tidak, namun Tuhan yang akan membimbing kita ke arah yang pas, aman dan bijak.

Semakin kita sering membaca buku-buku berkonten Ilahi – baik itu kisah yang penuh inspirasi, motivasi dan hikmah, semakin kita akan terasah dengan sikap yang bijak. Dekatkanlah diri kita dengan Tuhan supaya mendapatkan hikmahNYA.

Jangan kamu percaya sama orang yang mengaku-ngaku dirinya bijak.  Carilah dan biarkan diri kita sendiri  mengalami  indahnya mengenal sikap bijak untuk kehidupan yang datang dari Tuhan. Kembalilah ke Tuhan – tanyakan segala sesuatu kepadanya, mintalah petunjukNYA.**