Archive for the ‘TOP Quote’ Category

Kalo emang ada rasa cinta plus kasih sayang, kudunya suka cita dan lebih suka dilandasi hal-hal yang sifatnya benar.

Godaan pacaran itu pasti ada, apalagi godaan yang sudah ke level “suka sama suka” atau “sama-sama suka”. Sudah banyak banget  alasan ini jadi bagian warna dalam hubungan. Aku sendiri pun sempat hampir terjebak!

Aku bisa lolos dari godaan itu karena mudah aja aku berpikir saat itu, aku gak punya jaminan apapun dari dia. Bisa saja dia menjanjikan nikah, tapi aku gak mau ambil resiko.

Lagian aku lebih suka memilih menjadikan diriku mahal dan terhormat. Aku gak mau menjadikan diriku murah tanpa harga untuk bisa dinikmati. Aku justru sengaja menutup tubuhku rapat demi sebuah harga yang tinggi yaitu bisa disentuh setelah menikah resmi dan jelas ada komitmen yang bisa saya tuntut balik untuk keamanan diriku.

Kalo memang bener-bener cinta, seharusnya justru menjauhi hal-hal yang terlarang dan menjunjung sikap yang benar dan terhormat. menghormati hak aku yang ingin menyerahkan tubuh dengan akta nikah dan komitmen tanggung jawab.

Kasih itu tidak cemburu

Gak mudah sih untuk tidak cemburu sama pasangan. Rasa cemburu itu pasti ada sejak dari hubungan berteman, berpacaran, bertunangan sampai menikah. Cemburu kepada keluarga dan teman baik pun bisa terjadi, karena itulah sifatnya manusia yang terbatas.

Aku bisa bersabar untuk tidak cemburu tapi sabarku juga ada batasnya. Trus, gimana caranya tuh koq bisa yah ada orang yang pasangannya amit-amit tapi tetap bersabar dan tidak cemburu trus tidak lama kemudian justru pasangannya jadi sadar, minta maaf bahkan bertobat dan menjadi super setia? Nah loh ……

Usut punya usut, ternyata mereka yang bisa memenangkan sebuah hubungan yang langgeng, aman, adem dan ayem itu modalnya cinta kasih dari Tuhan. Mereka yang menang sabar itu karena lebih meminta Tuhan yang mengontrol hidupnya dan menyerahkan laku hidupya sepenuhnya ke dalam kuasaNYA karena kita gak bisa mengontrol dan mengawasi pasangan 7 hari 24 jam penuh, gitu katanya …..

Kasih itu sederhana.

Pas dengar ungkapan kalo ‘kalo kasih itu harus sederhana alias tidak sombong’ waktu kali pertama bingung juga. Tapi yang aku ngerti sih sederhana aja, kalo aku mati-matian berjuang ingin tampil WAH di depan pacar, bela-belain ngebohong ke ortu demi penampilan biar keliatan lebih WAH dimatanya, berarti cinta kasihku belaka dan sombong. Kalo punya sikap kayak gitu aku bisa capek sendiri, repyyottt sendiri!

Trus ada juga yang bilang kalo memang aku  punya tali kasih,  yah harus bisa merendah, jangan belagu, jangan sok tahu, dan jangan merasa tidak mau kalah alias selalu ingin paling gimana getooo. Kalo emang ada tali kasih pasti bisa nerima apa adanya! Harus bisa nerima apa adanya !

Kasih itu murah hati.

Sepasang suami istri yang sudah diikat resmi oleh tali kasih dan berpayungkan hukum akta pernikahan menjalani bahtera rumah tangga dengan berbagai tantangan dan godaan. Ada suka dan ada duka. Tetapi dasar cinta dan kasih sayang yang mereka semaikan bersama, seringkali terabaikan pada saat kegelapan dunia menyeruak. Sekuat-kuatnya dasar kasih sayang yang kita punya, tetap akan goyah kalau tanpa disertai kasihNYA.

Suami tersinggung dan menolak berbicara  atau sebaliknya. Kadang-kadang persoalannya sepele, hanya karena sang suami atau istri merasa keberatan untuk memberikan sedikit rejekinya untuk keperluan saudaranya atau orang lain.

Sadarkah kalau apapun yang kita miliki di dunia ini, semuanya adalah berkah dan amanah dariNYA karena sifat kasihNYA yang Maha Murah Hati?

Kasih itu sabar …..

Koq bisa? Itu adalah reaksi saya pertama kali mendengar ungkapan ini. Bagaimana mungkin kasih itu sabar?

Ibarat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Meski anaknya bertabiat kurang menyenangkan, kasih sayang ibu tak pernah luntur, begitu sabar mencoba membantu menghilangkan kebiasaan buruk anaknya. Terus tanpa putus asa memberi pengertian agar anaknya bisa hidup bertabiat jauh lebih baik.

Meski anaknya kurang ajar, seorang ibu tetap bersabar karena ada kasih sayang.

Ini adalah tantangan buat aku, kalau memang aku betul punya sifat kasih alias sifat rohman dan rohim, bisakah aku tidak menyebarkan virus permusuhan? Bisakah aku memaafkan kesalahan orang lain? 

Cinta kasih itu menghanyutkan kita dengan harapan.

Suka banget neh aku sama quote yang satu ini. Memang bener, sejak punya cinta kasih yang dilimpahkanNYA melalui teman-teman, sahabat, kerabat, keluarga bahkan orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya pun, harapan hidupku semakin menguat dan positif.

Aku baru nyadar juga kalo cinta kasih itu bukan cuman datang dari kekasih, keluarga atau orang terdekat, tapi bisa juga dari orang yang belum kita kenal sebelumnya.

Kalau kita menebarkan benih kebaikan, niscaya yang kita petik juga kebaikan. Pada saat kita memberi pertolongan cuman sekedar menunjukkan jalan misalnya, orang yang tersesat itu jadi punya harapan karena kita bisa mengasihinya.

Pada waktu kita sedang dirundung duka, orang-orang yang mengasihi kita biasanya mencoba menghibur dan melapangkan hati dan pikiran, bukan? Itu karena mereka punya cinta kasih. Apa yang mereka lakukan itu pada akhirnya bisa memberikan harapan baru yang lebih baik buat diri kita sendiri, bukan?

Cinta kasih itu harus tulus

Aku sih gak mau ambil pusing ngikutin kehidupan pribadi para selebritis lewat media. Tapi ada satu yang bisa kita petik buat pelajaran pribadi yaitu soal kawin cerai.

Aku yakin siapa pun orangnya apapun statusnya, mereka menikah atas dasar cinta kasih awalnya. Pada saat badai rumah tangga datang, nah kemana itu cinta kasih yang pernah mereka miliki?

Ada yang berpisah karena pasangan berselingkuh, pasangan jatuh sakit gak mampu mendampingi lagi, pasangan lebih mementingkan diri sendiri atau banyak alasan yang lain.

Memang cinta kasih itu harus tulus, mereka juga awalnya memberikannya tulus hati tapi badai hidup yang datang sangat kuat dan besar makanya perahu cintanya kandas. Kalau memang sudah didasari cinta kasih yang tulus sebaiknya meminta juga kekuatan dan perlindungan sama Yang Diatas. Sekuat apapun tenaga, hati dan pikiran kita membangun, menjaga dan menjalani cinta kasih, tetap akan berat kecuali memang harus disertai cinta kasihNYA yang tak terbatas dan sangat maha. Pasti bisa, pasti aman.