Posts Tagged ‘jaminan’

Aku gak gimana masa depanku – bahkan apa yang bakal terjadi sejam mendatang pun aku gak tau!

KARAKTER YANG BAIK ADALAH JAMINAN TERBAIK DALAM HIDUP.

Akhirnya, aku pilih cara gini aja …..melindungi diriku dan keluargaku semampuku trus aku coba ngasih hari esokku ama Pemilik Bumi Langit alias Tuhan. Habis mau gimana lagi coba. Banyak banget hal-hal yang ada di luar kemampuan kendali diri sendiri.  Lagian udah aku coba untuk mengendalikan ini itu sekuat tenaga, berhasil sih berhasil …tapi dibalik semuanya itu, asli capek degh!! Koq kayak diperbudak sama banyak hal.

SO, aku milih melepaskan beban untuk kontrol ini dan itu sama yang ciptakan aku aja deh.

Biar berhasil kalo capek melulu dan jadi diperbudak kayaknya aku gak enjoy, no way akh! So aku milih berdoa, rajin membaca firmanNya dan mencoba mengikuti perintahNya yang ada dalam firmanNya itu.

 Sambil belajar ….tanpa aku sadari sebetulnya aku jadi belajar mengenalNya, siapa Dia, dan walhasil ….. Karunia dan BerkahNya justru bikin aku bisa jadi punya cinta kasih, tenang, sabar, sedikit lembut dan sedikit berbijak. Yah sedikit lah …sedikit-sedikit aja dulu ……ntar lama-lama juga kan berkembang!

So memilih membangun karakter itu kuncinya mengenal Tuhan, berserah sepenuhnya dan ngikutin mauNya!

Aku pernah merasakan hidup yang lelah tak berujung, tidak punya kepuasan apapun padahal untuk memiliki ini itu sangat mudah banget, cepat bosan, hampa dan tanpa arah. Sikon ortu lumayan mendukung sih, selama menjalani kuliah, sudah 4 kali ganti mobil pribadi yang tanpa harus berbagi dengan adik atau ortu. Uang saku yang jumlahnya OK juga cukup deras sehingga menunjang gaya hidup OK juga.

Tapi aku  LOST banget. Kualitas pribadiku bisa aku katakan GAK BERKEMBANG. Pasalnya, bisa dapet ini itu terlalu mudah dan pengaruh relasi ortu kuat banget. Orang di sekitarku menerimaku karena melihat siapa ortuku.

Aku anggap ortuku dewa hidupku, aku ngerasa punya jaminan hidup yang hebat. Suatu saat ortuku cerai. Perceraian ortu tidak merubah level gaya hidup sama sekali hanya saja sikap gamang semakin menguat saat mereka memutuskan menikah lagi masing-masing. Malas ketemu ortu tiri! Sikap malas itu akhirnya membangunkan aku dari tidur nyenyakku. Aku harus menjadi diri sendiri, aku harus berusaha berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bayangan jaminan ortu.

Susah banget!! Setengah mati aku berjuang menghapus kekuatan bayang-bayang nama ortu. Aku pun berhasil tapi aku salah langkah.  Aku menganggap diriku hebat. Karirku luar biasa pesat. Aku menikmati kehebatanku sampai aku pun terpuruk lelah oleh diri sendiri. Aku pegang kendali hidupku mati-matian.

Sampai akhirnya aku digugah oleh seorang nenek tua yang berjualan di Pasar Tradisional di Yogayakarta. Waktu itu aku pergi berlibur ke Yogya tanpa tujuan yang jelas. Luntang lantung sampai pergi iseng naik kereta Prameks ke Solo PP juga tanpa tujuan sampai ketemu nenek tua itu di atas kereta. Nenek itu berjualan buah dan sayur dari hasil belas kasih tetangga di sekitarnya demi menghidupi dirinya sendirinya. Tapi dia tak pernah kuatir akan hidupnya yang dimataku tak punya jaminan hidup sama sekali.

Si nenek hanya bilang,”Yang jamin hidup saya adalah Gusti, dia yang punya bumi langit, kalau kamu capek, hidup ndak puas-puas, yah harus balik kepadaNYA ….tanya Dia, apa sebetulnya rencanaNYA buatmu?”

“God directs our steps, so why try to understand everything along the way?”