Posts Tagged ‘sayang’

Kasih itu tidak cemburu

Gak mudah sih untuk tidak cemburu sama pasangan. Rasa cemburu itu pasti ada sejak dari hubungan berteman, berpacaran, bertunangan sampai menikah. Cemburu kepada keluarga dan teman baik pun bisa terjadi, karena itulah sifatnya manusia yang terbatas.

Aku bisa bersabar untuk tidak cemburu tapi sabarku juga ada batasnya. Trus, gimana caranya tuh koq bisa yah ada orang yang pasangannya amit-amit tapi tetap bersabar dan tidak cemburu trus tidak lama kemudian justru pasangannya jadi sadar, minta maaf bahkan bertobat dan menjadi super setia? Nah loh ……

Usut punya usut, ternyata mereka yang bisa memenangkan sebuah hubungan yang langgeng, aman, adem dan ayem itu modalnya cinta kasih dari Tuhan. Mereka yang menang sabar itu karena lebih meminta Tuhan yang mengontrol hidupnya dan menyerahkan laku hidupya sepenuhnya ke dalam kuasaNYA karena kita gak bisa mengontrol dan mengawasi pasangan 7 hari 24 jam penuh, gitu katanya …..

Advertisements

Kasih itu sederhana.

Pas dengar ungkapan kalo ‘kalo kasih itu harus sederhana alias tidak sombong’ waktu kali pertama bingung juga. Tapi yang aku ngerti sih sederhana aja, kalo aku mati-matian berjuang ingin tampil WAH di depan pacar, bela-belain ngebohong ke ortu demi penampilan biar keliatan lebih WAH dimatanya, berarti cinta kasihku belaka dan sombong. Kalo punya sikap kayak gitu aku bisa capek sendiri, repyyottt sendiri!

Trus ada juga yang bilang kalo memang aku  punya tali kasih,  yah harus bisa merendah, jangan belagu, jangan sok tahu, dan jangan merasa tidak mau kalah alias selalu ingin paling gimana getooo. Kalo emang ada tali kasih pasti bisa nerima apa adanya! Harus bisa nerima apa adanya !

Kasih itu murah hati.

Sepasang suami istri yang sudah diikat resmi oleh tali kasih dan berpayungkan hukum akta pernikahan menjalani bahtera rumah tangga dengan berbagai tantangan dan godaan. Ada suka dan ada duka. Tetapi dasar cinta dan kasih sayang yang mereka semaikan bersama, seringkali terabaikan pada saat kegelapan dunia menyeruak. Sekuat-kuatnya dasar kasih sayang yang kita punya, tetap akan goyah kalau tanpa disertai kasihNYA.

Suami tersinggung dan menolak berbicara  atau sebaliknya. Kadang-kadang persoalannya sepele, hanya karena sang suami atau istri merasa keberatan untuk memberikan sedikit rejekinya untuk keperluan saudaranya atau orang lain.

Sadarkah kalau apapun yang kita miliki di dunia ini, semuanya adalah berkah dan amanah dariNYA karena sifat kasihNYA yang Maha Murah Hati?

Kasih itu sabar …..

Koq bisa? Itu adalah reaksi saya pertama kali mendengar ungkapan ini. Bagaimana mungkin kasih itu sabar?

Ibarat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Meski anaknya bertabiat kurang menyenangkan, kasih sayang ibu tak pernah luntur, begitu sabar mencoba membantu menghilangkan kebiasaan buruk anaknya. Terus tanpa putus asa memberi pengertian agar anaknya bisa hidup bertabiat jauh lebih baik.

Meski anaknya kurang ajar, seorang ibu tetap bersabar karena ada kasih sayang.

Ini adalah tantangan buat aku, kalau memang aku betul punya sifat kasih alias sifat rohman dan rohim, bisakah aku tidak menyebarkan virus permusuhan? Bisakah aku memaafkan kesalahan orang lain? 

Maaf adalah perwujudan final cinta kasih.

Dalam perjalanan menguntai tali cinta kasih selalu ada duri rintangan yang tak diharapkan. Itu pasti terjadi. Roda hidup bergulir, kadang berada di atas atau sebaliknya. Sejauh manakah kita bisa mempersiapkan diri untuk menerima dan menjalaninya?

Waktu masih pacaran, denger pacar baru telpon cewek lain aja, otak dan hati sudah naik suhunya. Marah-marah, bete, jadi jutek, bisa juga milih jadi BUBAR AJA. Bagaimana kalau sudah dalam ikatan nikah? Gak bisa ‘kan milih yang terakhir begitu aja? Bisa repppyoootttttt.

Kalau betul-betul mau merasakan indahnya pengalaman bercinta kasih, yah harus bisa memaafkan, memaklumi, menerima apa adanya dan berkorban itu wajib hukumnya. Apalagi kalau mau memakai cincin berlian di jari manis sebagai tanda terima ikatan. Menerima ikatannya adalah menerima dia apa adanya dan siap memaafkan kesalahannya dan sama-sama siap saling memperbaiki diri.

Sebagai anak, bagaimana rasanya kalau suatu saat Ayah, Bapak, atau Papa memarahimu? Kesal, marah, atau tidak terima? Sebenarnya kita mesti sadar, apapun yang dilakukan orangtua terhadap kita sebenarnya untuk kebaikan kita. Misalnya, sebagai pembelajaran agar kita tidak mengulang kebiasaan buruk. Tentu dalam hal ini kemarahan atau hukuman yang diberikan harus dalam bentuk kewajaran, bukan sebagai sarana penganiayaan.

“Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihiNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi”

Seperti seorang ayah menyayangi anaknya, demikianlah sebenarnya Sang Pencipta dunia ini mendisiplinkan umatNya ketika ia bandel. Kapanpun tidak menaatiNya, kita beresiko untuk didisiplinkan olehNya. Tetapi, Tuhan sangat penuh kasih, dan biasanya Ia memberikan kita banyak waktu untuk bertobat. Pendisiplinan Tuhan terjadi setelah kita berkali-kali tidak taat dan setelah Ia berkali-kali memberi peringatan.

Seorang ayah adalah idola bagi anak-anaknya. Demikian pula, Sang Pencipta hendaknya menjadi idola dan panutan dalam hidup kita. Jadi, kalau kita mengalami sesuatu yang kurang mengenakkan dalam hidup ini, anggaplah itu sebagai sebuah hajaran dari ayah yang baik, dengan tujuan membuat hidup kita menjadi lebih baik.~