Posts Tagged ‘hilang’

Aku pernah merasakan hidup yang lelah tak berujung, tidak punya kepuasan apapun padahal untuk memiliki ini itu sangat mudah banget, cepat bosan, hampa dan tanpa arah. Sikon ortu lumayan mendukung sih, selama menjalani kuliah, sudah 4 kali ganti mobil pribadi yang tanpa harus berbagi dengan adik atau ortu. Uang saku yang jumlahnya OK juga cukup deras sehingga menunjang gaya hidup OK juga.

Tapi aku  LOST banget. Kualitas pribadiku bisa aku katakan GAK BERKEMBANG. Pasalnya, bisa dapet ini itu terlalu mudah dan pengaruh relasi ortu kuat banget. Orang di sekitarku menerimaku karena melihat siapa ortuku.

Aku anggap ortuku dewa hidupku, aku ngerasa punya jaminan hidup yang hebat. Suatu saat ortuku cerai. Perceraian ortu tidak merubah level gaya hidup sama sekali hanya saja sikap gamang semakin menguat saat mereka memutuskan menikah lagi masing-masing. Malas ketemu ortu tiri! Sikap malas itu akhirnya membangunkan aku dari tidur nyenyakku. Aku harus menjadi diri sendiri, aku harus berusaha berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bayangan jaminan ortu.

Susah banget!! Setengah mati aku berjuang menghapus kekuatan bayang-bayang nama ortu. Aku pun berhasil tapi aku salah langkah.  Aku menganggap diriku hebat. Karirku luar biasa pesat. Aku menikmati kehebatanku sampai aku pun terpuruk lelah oleh diri sendiri. Aku pegang kendali hidupku mati-matian.

Sampai akhirnya aku digugah oleh seorang nenek tua yang berjualan di Pasar Tradisional di Yogayakarta. Waktu itu aku pergi berlibur ke Yogya tanpa tujuan yang jelas. Luntang lantung sampai pergi iseng naik kereta Prameks ke Solo PP juga tanpa tujuan sampai ketemu nenek tua itu di atas kereta. Nenek itu berjualan buah dan sayur dari hasil belas kasih tetangga di sekitarnya demi menghidupi dirinya sendirinya. Tapi dia tak pernah kuatir akan hidupnya yang dimataku tak punya jaminan hidup sama sekali.

Si nenek hanya bilang,”Yang jamin hidup saya adalah Gusti, dia yang punya bumi langit, kalau kamu capek, hidup ndak puas-puas, yah harus balik kepadaNYA ….tanya Dia, apa sebetulnya rencanaNYA buatmu?”

“God directs our steps, so why try to understand everything along the way?”

Kalo emang ada rasa cinta plus kasih sayang, kudunya suka cita dan lebih suka dilandasi hal-hal yang sifatnya benar.

Godaan pacaran itu pasti ada, apalagi godaan yang sudah ke level “suka sama suka” atau “sama-sama suka”. Sudah banyak banget  alasan ini jadi bagian warna dalam hubungan. Aku sendiri pun sempat hampir terjebak!

Aku bisa lolos dari godaan itu karena mudah aja aku berpikir saat itu, aku gak punya jaminan apapun dari dia. Bisa saja dia menjanjikan nikah, tapi aku gak mau ambil resiko.

Lagian aku lebih suka memilih menjadikan diriku mahal dan terhormat. Aku gak mau menjadikan diriku murah tanpa harga untuk bisa dinikmati. Aku justru sengaja menutup tubuhku rapat demi sebuah harga yang tinggi yaitu bisa disentuh setelah menikah resmi dan jelas ada komitmen yang bisa saya tuntut balik untuk keamanan diriku.

Kalo memang bener-bener cinta, seharusnya justru menjauhi hal-hal yang terlarang dan menjunjung sikap yang benar dan terhormat. menghormati hak aku yang ingin menyerahkan tubuh dengan akta nikah dan komitmen tanggung jawab.